Selasa, 13 Januari 2009

Meneliti Wanita Kota di Jakarta

1. Pendahuluan

Studi yang kami lakukan adalah mengenai wanita kota dan kehidupannya dengan fokus terutama pada periode masa suburnya serta kegiatan-kegiatannya baik di dalam maupun di luar rumah. Dengan studi ini kami bermaksud untuk lebih mengetahui dan mengenal aspek kehidupan wanita dari segi pandangannya sendiri. Studi mengenai kehidupan wanita boleh dikata langka, kecuali

adanya beberapa studi dengan pendekatan antropologi, tetapi itu pun sangat eksklusif, biasanya dihubungkan dengan kehidupan keluarga, ataupun dengan sistem kekerabatan. Dari segi ekonomi misalnya boleh dikata sangat sedikit studi yang memberi fokus pada partisipasi wanita angkatan kerja, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Memang sejak lama wanita dianggap sebagai tenaga nomor dua dan diabaikan potensinya dalam labour force participation. Akhir-akhir ini terutama Para ahli penduduk danjuga Para ahli ekonomi pembangunan makin menyadari arti penting ikut sertanya kaum wanita bekerja di luar rumah, karma ada relevansinya dengan kebijaksanaan menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk di negara-negara yang sedang berkembang.

Sementara itu sudah lama tYtenjadi rahasia umum bahwa wanita Indonesia ini merupakan pengelola keuangan yang paling pandai dalam mengatur keuangan rumah tangga. Hal ini dihubungkan dengan keadaan sosial-ekonomi yang labil, dengan gaji suami yang hampir tak cukup di akhir bulan, malah Bering kali hanya sampai pertengahan bulan, sebenarnyalah mereka yang paling banyak terkena pengaruh: Mereka pulalah yang memeras otak bagaimana agar dapurnya dapat terus bei-asap. Inilah salah satu aspek yang menarik untuk diteliti. Apakah pengetahuan mereka dalam mengatur ekonomi rumah tangga ada penglruhnya terhadap keputusan-keputusan lainnya, seperti misalnya tentang keinginan mempunyai anak? Samp

seberapa jauhkah sebenarnya mereka ikut terlibat secara ekonomi akti dalam menanggulangi periuk-belanga rumah tangga itu. Untuk yan terakhir ini, kami ingin menguji hipotesa yang mengatakan bahwa ikut sertanya wanita dalam tenaga kerja akan mempengaruhi fertilita

secara negatif.

Di masyarakat maju ada masa-mass dalam kehidupan seorang wanita dewasa terlibat dalam kegiatan-kegiatan di dalam rumah tangga, seperti: menikah, melahirkan dan mengasuh anak dan kemudian kembali lagi ke pasaran kerja, yaitu sesudah anak-anak cukup besar untuk ditinggalkan. Di masyarakat lain, seperti d Indonesia, keadaan tampaknya berlainan. Pilihan itu boleh dikata ama kecil, akan tetapi lebih banyak terdorong oleh keadaan keluarga dan, keadaarr ekonomi keluarga. Sebab itu penelitian ini lebih menekankan pada keadaan ekonomi keluarga dan pengaruh keluarga. Tampaknya tuntutan masyarakat yang meminta seorang wanita menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik, di samping tuntutan dapur yang meminta ikut sertanya wanita aktifsecara ekonomi, membentuk pola pekerjaan yang lain bagi wanita di Indonesia, dibanding dengan saudarasaudaranya dari negara-negara maju misalnya. Dalam pekerjaan wanita Indonesia lebih menjurus kepada kombinasi antara pekerjaanpekerjaan yang dapat menghasilkan pang tanpa mengganggu fungsinya sebagai istri dan ibu rumah tangga yang balk seperti yang dituntut oleh masyarakat. Di Indonesia berkembang berbagai jenis' pekerjaan yang self employed yang tampaknya sangat sesuai dengan' pola tersebut. Apakah jenis pekerjaan ini ada pengaruhnya terhadap' tingkat fertilitas? Itulah beberapa hal yang saya cari dalam penelitian ini.

2. Pemilihan Sample

Sementara itu akan sangat sukar kalau kita tidak membatasi diri pada wanita mana yang akan diteliti, mengingat demikian besarnya variasi, baik dilihat dari segi pendidikan, sosial-ekonomi, kesuku-bangsaan dan sebagainya. Dalam serangkaian diskusi dan pertemuan yang kami lakukan sebelum penelitian, kami telah mengambil keputusan mengenai hal ini. Hal yang akan kami teliti adalah wanita-wanita ibu rumah tangga yang kita sebut middle class. Ada beberapa alasan mengapa justru para ibu dari golongan ini yang akan kami pilih. Alasan yang utama adalah bahwa sebagian terbesar dari mereka adalah istri-istri pegawai negen yang mempunyai gaji tak cukup, sehingga kami rasa akan sangat cocok sekah kalau kita ingin mengetahui rahasia wanita Indonesia dalam memutar otak untuk menjalankan rumah tangganya. Pilihan ini juga dianggap ideal, oleh karena kami membayangkan sukarnya komunikasi dengan golongan-golongan lain, baik dengan golongan yang lebih atas maupun dengan golongan yang lebih bawah, mengingat para pelaku wawancara yang kira-kira berasal dari golongan middle class tetapi yang dapat menyelamatkan diri berkat kepandaiannya, yang tetap menjadi rahasia.

Hal yang menjadi persoalan sekarang adalah siapakah yang dapat disebut dengan golongan kelas menengah ini. Di sini kami menemui kesulitan untuk menetapkannya. Akan menjadi amat rumit kalau kita mengambil konsep sosiologi mengenai kelas, mengingat begitu luasnya kota Jakarta, di samping keperluan kami yang hanya akan mengambil sampel yang kecil saja. Sebab itu disepakati pula bahwa metode sampling kami adalah purposive sampling. Untuk menentukan responden kelas menengah, kami pergunakan daerah tempat tinggal, di samping organisasi wanita sebagai sumber sampel (sample pole), yang lebih-kurang diperkirakan menampung mereka dari golongan kelas menengah. Untuk itu kami pilih daerah Grogol-Petojo dan Rawamangun-Utan Kayu sebagai daerah-daerah penelitian yang kami anggap secara mayoritas didiami oleh pegawai negeri dari golongan menengah daerah sumber sampel yang satu serta oiganisasi wanita dan beberapa jenis profesi lainnya seperti guru, juru tik, asisten apoteker yang kami anggap menjadi pekerjaan bagi orang kelas menengah, sebagai sumber sampel kami yang lain.

Kami juga tertarik pada program Keluarga Berencana, yang sekarang menjadi kebijaksanaan pemerintah, dengan melihat mereka yang dianggap golongan menengah dan tinggal di jantung kota Jakarta, sampai berapa jauh pengetahuan mereka tentang Keluarga Berencana. Kami juga ingin melihat apakah ada pengaruhnya dari kepandaian mengemudikan rumah tangga dengan keputusankeputusan yang mereka ambil sehubungan derigan Keluarga Berencana: apakah, misalnya, ada pengaruhnya dengan pendidikan yang mereka capai; apakah ada pengaruhnya dengan suasana rumah di mana mereka dibesarkan; apakah ada pengaruhnya dengan pengalaman kerja, ikut sertanya dengan organisasi-organisasi, dengan suku bangsa dari mana mereka berasal dan sebagainya. Dalam hal ini kami juga tertarik dengan aspirasi mereka terhadap anak-anak mereka, sehingga dengan demikian sebenarnya kami mengumpulkan data dari tiga generasi, yaitu responden sendiri, ibu responden dan anak-anak responden.

Sampel kami adalah wanita yang bersuami dan paling sedilq mempunyai satu anak yang hidup dan masih dalam masa subur. Kax mengambil jumlah sampel yang tidak besar, yaitu lebih-kurang 15~ orang, oleh karena kami akan mengadakan penelitian yang mendalam Mungkin secara kuantitatif jumlah ini tidak dapat diangga~ representatif, akan tetapi sesuai dengan tujuan kami, kami bermaksui mencari data yang kualitatif.

Seperti spa yang telah diuraikan di atas, tentu saja akan sangat sukau bagi kami untuk memilih 150 responden dari sekian juta wanita Jakarta. Oleh karena itu sesuai dengan metode sampling kami yank purposive, kami kemudian memilih beberapa organisasi sebagai wada~ atau sample pole kami. Masalahnya akan menjadi sukar, jika sekiranya tidak melalui sample pole, karena alternatif lain berarti bahwa kami memilihnya melalui Rukun Kampung misalnya, yang jumlahnya lebih-kurang 21.000 buah; belum lagi heterogenitas yang tinggi dari para calan responden kami jika memilih melalui prosedur itu, di samping beberapa alasan praktis lainnya.

Mengenai dasar dari pemilihan sampel, kami bertolak dari beberap~ variabel yang dapat mempengaruhi fertilitas seperti spa yang tela disebutkan di atas, yaitu: pendidikan, pekerjaan, pengalaman bekerj~ dan berorganisasi para responden dan sikap mereka terhadap slat-alai kontraseptif dan suku bangsa. Memang ads kenyataan tidak semu dasar dan pertimbangan seperti yang disebut di atas dapat kami ikuti tetapi kami usahakan hal itu sampai sejauh mana dengan mencob membuktikan pokok hipotesa kami dengan memilih 50 ibu rums tangga dan 50 wanita yang bekerja.

Hipotesa kedua berhubung dengan faktor perbedaan suku bangsa Ada dugaan bahwa beberapa suku bangsa tidak begitu aktifturut sert dalam program Keluarga Berencana. Salah satu di antaranya adalah suku bangsa Cina, yang kemudian juga menjadi golongan dari mana kami pilih responden kami. Satu suku bangsa lain dari mana kami juga pilih responden adalah suku bangsa Minahasa, meskipun dasat pemilihan tidak sama dengan pada suku bangsa Cina. Perhatian kami dalam hal memilih suku Minahasa adalah adanya dugaan bahwa dalam masyarakat luas suku bangsa itu mempunyai orientasi nilai budaya ke arah kebudayaan Barat, yang lebih banyak dibandingkan dengan suku bangsa lain di Indonesia. Kecuali itu ads pertimbangan pengetahuan kita mengenai suku bangsa ini sangat sedikit dibandingkan misalnya dengan suku-suku bangsa jaws atau Sunda ataG Minangkabau. Justru dari suku-suku bangsa yang terakhir ini, kami duga akan terkumpul dari sampel ibu rumah tangga dan wanita pekerja. Dari kedua suku bangsa ini kami pilih 52 ibu dan dengan demikian kami mempunyai 150 ibu yang akan kami teliti.

Adapun prosedur pemilihan responden adalah sebagai berikut: Mula-mula kami memilih organisasinya secara umum, kemudian kami menetapkan lokasinya yang kami duga menjadi tempat tinggal golongan menengah ataupun menjadi daerah pekerjaan golongan menengah. Langkah selanjutnya adalah menghubungi pimpinan dari wadah yang kami pilih, dan membicarakannya mengenai maksud dan tujuan penelitian. Dapat dikatakan di sini bahwa pada umumnya para responden kami sangat responsif. Kemudian kami membicarakan dengan pimpinan, daerah-daerah mana yang akan kami teliti (sesuai dengan kriteria kami), dan dengan surat dari pimpinan kami datangi organisasi tingkat cabang, yang pada umumnya sudah diberitahukan sebelumnya akan kedatangan kami. Dari merekalah kami mendapat daftar nama-nama anggota, yang kemudian kami seleksi dengan membuat daftar baru berdasarkan atas kriteria kami, antara lain status perkawinan, jumlah anak, dan umur dalam masa subur. Kami berusaha untuk melihat distribusi umur yang seimbang, meskipun tidak selamanya hal itu mungkin. Sebenarnya kami menginginkan lebih banyak responden dengan umur muda di bawah 35 tahun, akan tetapi dalam kenyataan kami dapati bahwa di antara para wanita yang berorganisasi justru terdapat lebih banyak wanita dengan umur lebih tua. Dari daftar nama-nama yang kami buat, dan proporsi pembagian umur, kami memilih responden kami secara acakan dan sejumlah cadangan. Prosedur selanjutnya adalah memberitahukan kepada pimpinan mengenai.nama-nama yang kami pilih untuk diwawancara, agar untuk selanjutnya pimpinan dapat memberitahukan hal itu kepada para calon responden.

3. Para Pelaksana Wawancara

Untuk mengumpulkan data, kami mempergunakan tenaga wawancara wanita. Hal yang kami utamakan adalah wanita yang sudah menikah dan yang mempunyai anak. Meskipun demikian kami juga mempunyai banyak pengalaman berhubungan dengan family counseling. Alasan utama dalam memilih tenaga wawancara adalah karma di antara pertanyaan-pertanyaan yang akan kami ajukan, ada beberapa masalah yang masih dianggap sensitif bagi, telinga kebanyakan wanita Indonesia, bahkan juga bagi mereka yang sudah tinggal dl kota. Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan fertilitas, slat-slat kontraseptif, hubungan antara suami-istri misalnya, hanya dapat ditanyakan oleh petugas wawancara yang dianggap sudal~ patut bertanya, dan mereka itu adalah orang-orang yang sudah kawin Adalah janggal dan dianggap "kurang ajar" kalau sekiranya hal-had yang bersifat pribadi itu ditanyakan oleh seorang gadis yang masih dianggap "mentah".

Selain itu juga kami butuhkan tenaga wawancara yang bukan saj sudah "matang" dalam membicarakan berbagai masalah yang sensiti ini, tetapi juga sebagai ibu rumah tangga yang aktif dengan kegiatan-kegiatan di luar rumah tangganya, sehingga dari mereka kami mengharapkan dapat lebiih memperluas wawancara dengan beberapa pertanyaan lain yang mungkin dapat dikembangkan dari pedoman wawancara dan sebagai ibu rumah tangga, juga dapatmenghayati masalah-masalah yang dihadapi oleh para ibu rumalr tangga pada umumnya.

Kebetulan sekah sejalan dengan penelitian kami, ada juga suatu penelitian lain mengenai anak yang banyak berhubung dengan kegiatan-kegiatan pekerja sosial ataupun ibu-ibu rumah tangga yang menambah pengetahuannya dengan kursus-kursus mental health. Dart kelompok inilah kami mendapat tenaga wawancara yang mempunyai pekerjaan sebagai pekerja sosial ataupun ibu-ibu yang menambah pengetahuannya dengan kursus-kursus mental health. Selain itu kami juga mendapat beberapa tenaga dosen universitas dan lembaga penelitian. Memang kemudian kami juga mengerahkan mahasiswi tingkat akhir dari jurusan antropologi yang belum menikah, ketika dirasakan akan lebih banyak membantu untuk mewawancara responden suku bangsa Cina, dengan dugaan bahwa responden itu akan lebih terbuka kalau mereka diwawancara oleh orang-orang sesuku bangsa. Mahasiswi yang kami kerahkan sebagai petugas wawancara semuanya bersuku bangsa Cina. Dalam pembagian tugas mewawancara kami sejauh mungkin mengikuti latar belakang dari para responden kami. Hal ini untuk menghindarkan sikap tertutup dari responden kalau sekiranya responden tidak merasa aman untuk mengeluarkan isi hatinya terhadap orang-orang "di luar" kelompoknya. Sebab itulah kami menempatkan para petugas wawancara sesuai dengan kepentingan itu; misalnya untuk sampel Cina kami menempatkan tenaga wawancara Cina; sampel Minahasa kami berikan tenaga wawancara Menado; untuk sampel organisasi wanita Islam kami mempergunakan tenaga wawancara beragama Islam.

Demikianlah kami mendapatkan sejumlah petugas yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yaitu: suku bangsa jawa, Menado, Minangkabau, Sunda, Cina, dan yang beragama Islam, atau Kristen. Umur mereka adalah rata-rata di atas 25 tahun dengan pendidikan paling sedikit SMA.

3.1. Latihan dan Pengawasan Para Petugas Wawancara

Untuk tujuan mengenal masalah serta berbagai tekmk mengumpulkan data dengan tekmik wawancara mendalam serta segala sesuatu yang berhubungan dengan studi kami, maka dilakukan suatu rangkaian diskusi dan latihan yang mendalam dan intensif. Bukan saja kebanyakan dari para petugas wawancara kami belum banyak pengalaman dengarr penelitian-penelitian tetapi juga kami menganggap sangat perlu untuk melibatkan mereka dengan masalahnya sehingga mereka akan lebih menghayati, dan tentu saja pertimbangan lain adalah bahwa setiap penelitian adalah unik, sehingga latihan merupakan bagian terpenting dari suatu penelitian. Kami sadar sekali bahwa kualitas data kami akan sangat tergantung kepada cars-cara dan kualitas dari wawancara. Sebab itulah latihan kami lakukan seminggu

sekali untuk tiga jam lamanya, dan ini berlangsung sampai tiga bulan. Kepada para petugas wawancara disediakan waktu untuk role play, mereka acting secara bergiliran, sebagai responden dan sebagai petugas wawancara. Di waktu role play dan latihan itulah kami melihat segala sesuatu yang dapat meminimalkan berbagai kekurangan dan kelemahan teknik wawancara mendalam, bagaimana misalnya

mengemudikan wawancara kalau sudah keluar dari masalahnya. Dalam role play dan latihan itu pula, kami belajar berbagai pengalaman dan persoalan yang timbul, misalnya bagaimana menangani pertanyaan yang sudah buntu, bagaimana kalau responden berbelit-belit. Dari pengalaman kemudian kami sadar betul bahwa pendekatan yang paling balk adalah keramah-tamahan yang inembuat responden

memberi rapport. Kemudian juga pengalaman mengajarkan kepada kita apa arti latihan yang mendalam itu, sehingga pada waktu para petugas terjun ke lapangan, kami yakin betul satu kata dan pendapat balk antara sesama petugas wawancara maupun antara para petugas wawancara dan team. Kami juga memberitahukan kepada para petugas wawancara apa yang sebenarnya tersembunyi dalam setiap pertanyaan, dan apa yang sebenarnya kami inginkan untuk setiap pertanyaan. Ini kami anggap penting sekali untuk diuraikan kepada para petugas, karma banyak pertanyaan yang kami bust formulasinya sedemikian terselubungnya, bukan saja untuk menghindari pertanyaan yang sifatnya sugestif, tetapi juga karma ada beberapa pertanyaan yang bersifat sensitif. Lagi pula pegangan yang akan dibawa oleh para petugas wawancara hanya suatu pedoman wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang diharapkan dapat diformulasikan d dielaborasikan oleh para petugas wawancara sendiri, sesuai deng keadaan, tanpa mengurangi dan menyalahi maksud dan tujuan semul

Satu hal lain yang kemudian kami temukan pada waktu latih adalah kenyataan bahwa banyak dari para petugas masih "buts dengan hal-hal yang berhubungan dengan Keluarga Berencana d reproductive behaviour pada umumnya, padahal banyak pertanya kami yang berhubungan dengan masalah itu. Karena itu tentu am al janggal, kalau sekiranya ada responden ya_ig bertanya lebih mendeta mengenai masalah Keluarga Berencana dan fertilitas (dan di dala kenyataan memang demikian adanya), padahal si petugas wawanca masih "buta" mengenai hal ini. Tampaknya memang latihan it bukan saja bermanfaat bagi pencarian data saja, akan tetapi juga unt keperluan para petugas sendiri dalam hal mendalami pengetahu mereka yang berhubungan dengan Keluarga Berencana dan fertili pada.umumnya, yang selama ini rupa-rupanya juga masih merupak pertanyaan bagi para petugas itu sendiri. Untuk itulah diberik ` keterangan oleh salah seorang pimpinan proyek dalam bentuk disku yang sangat terbuka. Lain cara adalah dengan memutarkan film-fil yang dipinjam dari sebuah kedutaan mengenai reproductive behaviou yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi.

Barangkali patut juga dikemukakan di sini bahwa pertanyaa pertanyaan maupun diskusi yang sangat terbuka itu dimulai d dipimpin oleh salah seorang pimpinan proyek yang kebetulan oran asing, sehingga ada kemungkinan bahwa justru karena is seorang asi hal-hal yang "biasanya" dianggap tabu untuk dibicarakan di si menjadi masalah yang terbuka sifatnya. Hal ini menarik unt dikemukakan, karena pengalaman itu membuat kita berpikir beta dunia wanita yang penuh rahasia itu, bahkan juga di antara kau wanita much dan terpelajar dan yang tinggal di kota, rupa-rupan masalah seks masih merupakan suatu tanda tanya yang besar.

Selama satu minggu kami mempergunakan waktu untuk try-out, mana masing-masing petugas mengambil dua ka'sus untuk dico dengan pedoman wawancara yang sudah ada. Hasil dari try-out in adalah bahwa kami masih harus memperbaiki pedoman wawancar beberapa kali, sampai pada bentuknya yang final. Barulah kami sia untuk terjun ke lapangan.

Sementara itu berbagai keperluan teknis, antara lain surat izi penelitian dari pemerintah DKI Jaya, diufus oleh salah seoran anggauta tim. Rupa-rupanya faktor "kenalan dengan orang dalam banyak memperlancar, sehingga segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik dan cepat. Masing-masing peneliti dibekali dengan surat izin penelitian dan kami pesankan kepada para petugas wawancara agar selalu membawa surat itu pada waktu menjalankan tugasnya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Memang dalam kenyataannya sangat jarang para responden menanyakan surat izin itu, karena rupa-rupanya sudah diberitahukan sebelumnya oleh pimpinan organisasi atau lembaga di mana mereka tergabung. Meskipun demikian ternyata bahwa juga pengalaman seorang petugas wawancara yang justru diwawancara oleh seorang responden dan juga ditanyakan identitasnya; saat itu surat izin memang banyak menolong. Kepada para petugas wawancara sudah pula diberikan pengenalan diri kepada para calon responden, yang seragam. Hal yang banyak menyulitkan adalah bahwa para petugas wawancara kami berasal dari berbagai kalangan masyarakat, akan tetapi untuk penelitian ini, mereka memakai nama satu lembaga. Sehingga kalau kebetulan ada responden yang kenal dengan salah seorang yang bekerja di lembaga dan menanyakan kepada petugas wawancara mengenai hal itu, maka yang bersangkutan agak repot juga untuk menerangkannya.

3.2. Jalannya Wawancara

Pada umumnya para petugas wawancara tidak mengalami banyak kesulitan yang berarti dalam melakukan wawancara. Hal ini barangkali disebabkan antara lain karena sebelum petugas wawancara datang, responden sudah diberitahu akan kedatangannya oleh masing-masing organisasi di mana mereka tergabung. Juga mengenai masalah yang akan ditanyakan sudah diberitahu terlebih dahulu. Banyak juga dari para petugas wawancaraI yang tidak langsung mewawancara pada kedatangan mereka yang pertama, akan tetapi berkenalan dahulu dan membuat janji, dan wawancara yang sebenarnya baru diadakan pada kunjungan berikutnya. Biasanya para calon responden menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan rnateri dari yang akan ditanyakan; hal antara lain yang biasa ditanyakan adalah apakah ada pertanyaan yang berbau politik, karena mereka pada Umumnya sangat enggan untuk berwawancara mengenai politik.

Hal yang juga menarik untuk dikemukakan adalah bahwa rupa-rupanya di antara para calon responden, setelah diberitahukan bahwa dia akan diwawancarai, is berhubungan dengan responden yang telah mendapat giliran. Meskipun demikian hal-hal yang negatif tidak kami temui. Mereka umumnya bersifat kooperatif. Kami yakin bahwa sebagian besar lancarnya wawancara kami disebabkan oleh keluwesan para petugas wawancara dan pendekatan yang lebih bersifat omong-omong dan bertamu dari pada sikap "pemburu data yank profesional" dengan kuestioner di tangan dan sikap yang tergesa-ges; karena mengejar waktu dan target. Ada responden kami yank mengeluh mengenai sikap Para "pemburu data yang profesional" its dan hal itu dirasakan sangat mengganggu. Sebaliknya, tang; bermaksud memuji diri, mereka justru bersikap simpatik pada kam yang melakukan wawancara dengan cara santai ini, padahal kala~ dilihat dari sudut waktu, cara santai ini lebih banyak menyita wakt mereka. Hal itu tidak berarti hahwa kami selalu mendapatkan jala yang licin saja selama ini, oleh karena kami juga menjumpai wajal' yang was-was ataupun curiga dan perasaan tak senang. Namu biasanya pada kunjungan selanjutnya suasana sudah berubah dar beralih pada omong-omong seperti antara teman. Kami juga tida memaksa responden untuk waktu wawancara, karena, soal bil sebaiknya wawancara diadakan sepenuhnya kami serahkan pada pertimbangan responden. Pada umumnya mereka memilih waktu pagi hari.

Dari beberapa pengalaman kami juga harus menghadapi Para suam yang rupa-rupanya ingin tabu apa sebenarnya yang ingin ditanyakan Sebegitu jauh sikap mereka pun balk saja, bahkan sering kali mala terlibat dengan diskusi yang mengasyikkan, sehingga denga demikian menambah bahan-bahan yang kami kumpulkan. Hall i kecuali satu orang responden, yang pada kunjungan kedua terpaks tidak bersedia untuk melanjutkan wawancara, dengan alasan bah w' suami tidak mengizinkan.

Mengenai soal lamanya wawancara berjalan hal itu berbeda-bed tetapi rata-rata wawancara berjalan tidak kurang dari tiga Jam. Ole sebab itu kebanyakan wawancara diadakan dalam dua sampai tiga ka kunjungan, sedangkan tempat wawancara biasanya diadakan di rum responden. Memang ada beberapa perkecualian di mana wawancar diadakan di kantor, seperti pada beberapa responden guru, denga memberi alasan bahwa rumahnya sukar dicari dan juga dengan la' alasan yang praktis.

Dari pengalaman Para petugas wawancara kami berkesimpula bahwa pada umumnya para responden bersifat kooperatif. Da seluruh wawancara hanya ada dua kasus di mana wawancara tida dilanjutkan, yaitu oleh seseorang responden dari suatu organisa wanita, yang sudah sempat diwawancarai akin tetapi kemudian tida mempunyai waktu dengan alasan bahwa salah seorang keluarga ad yang sakit di rumah sakit; seorang responden lain adalah warga suku bangsa tertentu yang kemudian menolak untuk diwawancarai lebih lanjut, dengan alasan bahwa suami tidak mengizinkannya.

Semua petugas wawancara mempraktekkan metode pendekatan mengobrol dan tidak selalu mengikuti tata urut pertanyaanpertanyaan yang kaku. Memang pada wawancara yang pertama dan kedua pekerjaan masih terasa kaku, akan tetapi kemudian untuk wawancara selanjutnya masing-masing petugas sudah mengetahui tata urut pertanyaan yang sebaiknya. Para petugas juga melaporkan bahwa suasana intim dapat dipupuk, malah menurut pengalaman beberapa petugas keadaan menyulitkan justru karena telah berkembang hubungan yang terlampau intim dan rapat dengan responden. Banyak hal yang bersifat pribadi juga diceritakan pada para petugas, yang rupa-rupanya sangat dibutuhkan oleh para responden untuk penyaluran. Mereka juga rupa-rupanya membutuhkan orang atau teman dengan siapa mereka dapat berbincang mengenai masalahmasalah tertentu. Barangkali hampir tidak dapat dipercaya bahwa kami memperoleh banyak data yang di luar dugaan kami, yang dulunya kami anggap tidak atau sukar untuk diperoleh; bahkan ada juga responden yang sangat berterima kasih akan kedatangan kami karena is mendapat keterangan-keterangan yang selama ini sedang dicari jawabannya. Persoalannya sekarang dengan rapport-nya para petugas wawancara dengan Para responden, yang notabene baru berkenalan beberapa waktu itu, adalah tanggung jawab moral tentang data yang diketahuinya untuk ditulis dalam bentuk laporan. Oleh karena tidak jarang Para responden berpesan agar supaya ini menjadi rahasia antara dia dan peneliti. Hal yang juga membuat mereka terbuka seperti itu adalah karena mereka tahu bahwa, kami tidak membubuhi nama mereka dan kami juga yakinkan kepada mereka bahwa keteranganinya hanya merupakan salah satu keterangan yang akan dikumpulkan di antara yang lain menjadi satu tanpa menyebut identitasnya lagi. Sehingga dengan demikian kami terkejar janji itu dalam laporan kami.

Mengenai pencatatan selama wawancara kami hanya membuat beberapa catatan kecil dalam buku catatan, yang biasanya karni pakai hanya untuk membuat catatan penting saja, yang mudah dilupakan. Sedangkan data dari wawancara itu sendiri, yang terbanyak direkam dalam ingatan, untuk segera menuliskannya dalam bentuk laporan setelah Para petugas sampai di rumah. Kami juga melakukan wawancara dengan menggunakan tape recorder, yang memang terasa sangat menolong, hanya sayang sekali tentu saja tidak semua responden mau mengadakan wawancara dengan tape recorder. Kalau mau menggunakan tape recorder kami memang harus menanyakan. dulu, apakah responden bersedia kalau wawancaranya direkam.

Supervisi diadakan satu minggu sekali, di mana para petugas' berkumpul membicarakan masalah yang dihadapi, ataupun keputusan yang harus diambil, dan dalam pertemuan-pertemuan itu juga diumumkan hal-hal baru yang harus dijalankan bersama. Sementara wawancara masih berlangsung, hasil wawancara yang sudah selesai dalam bentuk laporan, yang rata-rata panjangnya 15 halaman tik spasm rangkap diserahkan kepada masing-masing supervisor. Supervisor membacanya dan memberi catatan demi konsistensinya, yang kemudian akan ditanyakan lagi kepada para petugas wawancara pada pertemuan yang akan datang. Demikianlah laporan itu masuk sesudah mendapat persetujuan dari supervisor.

3.3. Sesudah Data Terkumpul

Dengan rasa puas bercampur gembira dan bangga kami akhirnya melihat tumpukan hasil wawancara yang seluruhnya makan waktu lebih-kurang dua bulan itu. Rasa gembira itu segera beralih pada rasa cemas, mengingat pekerjaan selanjutnya, dalam memproses data itu. Sudah kami putuskan bahwa kami akan memakai komputer untuk. pengolahannya. Ini berarti bahwa kami menghadapi suatu rangkaian proses yang panjang dan yang juga masih asing dalam banyak hal. Alasan untuk penggunaan komputer adalah bahwa cara itu akan jauh lebih menguntungkan dan berharga daripada pengolahan dengan tangan, terutama dalam hal melaksanakan tabulasi silang yang banyak sekali jumlahnya. Itulah sebabnya meskipun total populasi kita hanya kecil saja, kami memutuskan untuk mengolahnya dengan komputer yang kami rasa akan lebih banyak manfaat dan keuntungannya.

Usaha pertama yang kami jalankan adalah membaca kembali seluruh hasil wawancara, untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas lagi, terutama dalam rangka membuat buku kode. Sementara itu kami sudah mulai dengan membuat beberapa perhitungan sederhana dengan tangan, sekedar untuk melihat distribusinya.

Dapat dikatakan bahwa periode ini sangat memeras pikiran dan tenaga, lebih-lebih karena sifat dari data kami yang belum pre-coded, bahkan boleh dikata masih tercecer dalam bentuk kalimat-kalimat. Langkah selanjutnya adalah mendaftar dan mengedit semua jawaban dan mengelompokkan menjadi satu jawaban jawaban yang bisa dimasukkan dalam satu kategori. Itulah sebabnya kami menggunakan tenaga para petugas wawancara sebagai pelaksana koding juga, oleh karena dengan mereka kami tidak perlu lagi memberikan banyak keterangan yang lebih mendetail. Pekerjaan mendaftar dan mengedit data yang tercecer dalam bentuk kalimat itu, ternyata memakan waktu juga. Untung sekali bahwa ada dua orang anggota dalam tim kami sudah terbiasa memproses data dengan komputer sehingga pekerjaan selanjutnya, yaitu koding, dapat berjalan dengan lancar. Salah satu jenis jawaban yang sangat sukar untuk dikoding adalah jawaban mengenai pengeluaran rumah tangga. Bukan saja datanya tidak lengkap, oleh sebab tidak semua responden memberikan keterangan secara terperinci, akan tetapi juga karena ada responden yang menjawab pengeluaran-pengeluarannya dalam bentuk natura, sehingga dengan demikian pekerjaan baru adalah mengkalikannya dengan harga pasaran resmi.

Kesulitan lain adalah tidak cocoknya antara pengeluaran dan pendapatan, karena memang ada kecondongan antara para responden untuk menyebut pendapatan yang resmi saja sebagai sumber penghasilan. Dalam keadaan semacam ini kami sudah instruksikan kepada para petugas wawancara untuk tidak memaksa responden menyebut seluruh jumlah pendapatannya, akan tetapi lebih cenderung bertanya mengenai pengeluarannya. Sedangkan sebagai cek kami ajukan kepadanya beberapa pertanyaan terselubung, baik mengenai pekerjaan tambahan suami maupun mengenai pekerjaan yang menghasilkan uang dari si istri. Memang tampaknya jelas ada kaitannya antara pengeluaran yang tidak sebanding , dengan pendapatan, dengan ikut sertanya dalam kegiatan ekonomi secara aktif dari para istri. Hal yang biasanya tersembunyi, karena para istri hampir tak mengatakan mempunyai pekerjaan, kecuali sebagai ibu rumah tangga. Namun dari penelitian ini, kami berhasil mengetahui kegiatan si istri secara lebih mendetail; boleh dikatakan sejak dia bangun pagi sampai masuk tidur lagi. Hanya saja kami harus dapat menelusurinya dari pertanyaan-pertanyaan. Itulah alasan yang utama mengapa kami mengambil pelaksana koding terutama dari para petugas wawancara, adalah karena mereka sudah dapat dengan mudah mencarinya dan sudah terbiasa dengan data kami.

Sesuai dengan tujuan dari studi ini, yaitu menjadikan juga semacam latihan untuk anggota tim, maka dirasa besar sekah manfaatnya melibatkan diri dalam diskusi-diskusi dari permulaan sampai pada tahap memproses data dan kemudian tahap menganalisanya.

Menuhs laporan adalah sesuatu hal yang lain lagi. Tampaknya disiplin pada diri sendiri me mang dibutuhkan sekali. Berbulan-bulan setelah print-out dan tabel-tabelnya ada di tangan, belum lagi ada satu lernbaran yang selesai untuk penulisan laporan. Sementara itu, waktu sudah semakin mengejar dan mengingat-ingat tanggal batas waktu membuat nightmare sepanjang malam. Karena kami semuanya tidak bekerja penuh waktu dalam proyek ini, maka lain pekerjaan juga menuntut waktu. Dalam keadaan seperti itu kami merasakan seperti tidak ingin lagi melakukan penelitian; rasa jera dan putus asa bercampur menjadi satu, sampai tiba waktunya untuk berbulat tekad, menahan diri dengan mengurung diri dan mendisiplin diri. Satu atau dua jam sehari menulis, atau paling akhir "melarikan diri" ke gunung, membuat diri menjadi orang yang egois bahkan terhadap keluarga. Rasanya tak ada perasaan yang lebih lega daripada melihat suatu laporan selesai.

3.4. Kerja Sama dalam Tim

Tak dapat disangkal lagi bahwa bekerja dengan tim memang memerlukan toleransi yang besar. Lebih-lebih lagi karena anggota tim kami tidak berasal dari satu lembaga, maka komunikasi tak dapat dilakukan setiap hari. Salah seorang tim kami yang menjadi tempat kami bertanya harus kembali ke Amerika. Kami menetapkan untuk selalu berkumpul satu minggu satu kali sekedar untuk berdiskusi atau untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya, sementara data masih dalam proses. Dalam perternuan itu juga kami bicarakan penggunaan data sesudah laporan utama selesai, mengingat kami datang dari berbagai lembaga. Hal ini sekedar untuk menjaga kemungkinan yang tidak baik di kemudian hari.

Barangkali tidak terlampau berlebihan jika dikatakan di sini bahwa kerja sama tim sangat baik, mungkin juga karena kerja sama ini sebenarnya bukanlah yang pertama. Sudah beberapa kali kami bekerja sama dengan orang-orang yang sama dalam satu tim sehingga boleh dikata kami sudah saling mengenal watak dan tabiat masing-masing.

Kerja sama yang baik dan toleransi antara anggota tim sangat menolong pekerjaan berat yang kadang-kadang membuat had kami putus asa. Rasa memiliki dan kepuasan yang diperoleh di antara sesama anggota tim juga merupakan sesuatu yang penting yang harus diperhitungkan dalam kerja sama dengan tim.

Teknik Riset Gabungan dalam Studi Kesuburan di Daerah Pedesaan di Jawa

1. Pendahuluan

Mendengar kata antropologi, maka bayangan yang muncul dalam pikiran kita adalah orang-orang, balk prig maupun wanita, yang pergi ke bagian-bagian dunia yang masih terbelakang untuk mempelajari agama, bahasa dan sistem sosial dari bangsa-bangsa yang masih terbelakang. Kata sosiologi menampilkan bayangan masyarakat massa, penelitian sensus dan survei sampel dan perumusan teori mengenai cara-cara penduduk negara indttstri berhubungan dengan keluarga dan komunitasnya. Kata demografi mengingatkan kita akan seorang ahli statistik yang sibuk meneliti daftar angka-angka yang tak ada habis-habisnya untuk menghitung tabel kehidupan atau memperkirakan tingkat kesuburan suatu kelompok individu. Namun yang diabaikan dalam definisi-definisi tersebut, dan yang terdapat dalam semua bidang ilmu, ialah bahwa semua itu merupakan pendekatan terhadap studi tentang tingkah laku manusia yang pada suatu titik tertentu harus mengakui kenyataan bahwa sebagian terbesar dari umat manusia hidup dalam keluarga dan komunitas. Dalam menghadapi kenyataan itu setup cabang ilmu tadi telah memberikan sumbangan penting untuk memahami cars suatu bangsa bertindak dan alasan yang merupakan latar belakang tindakan ini. Namun pada kenyataannya ketiga gambaran yang disajikan di atas tadi kurang mencerminkan sifat aneka warm, yang terdapat dalam masing-masing disiplin ilmu sosial tersebut. Dewasa ini tidak jarang turgid bahwa ahli antropologi bukannya menyelidiki masyaraka primitif, melainkan kota-kota kosmopolitan. Ahli sosiologi tida jarang melakukan penelitian atas komunitas yang kecil sekali da bahkan ahli demografi kadang-kadang meninggalkan mesin hitung nya dan mengadakan penelitian lapangan. Banyak pendekatan pentin yang terjadi selama bertahun-tahun berasal dari orang-orang yan mengesampingkan batas-batas disiplin mereka yang sempit date menciptakan cara-cara baru untuk mengumpulkan dan menganalis

data. Dalam hal-hal tersebut fleksibilitas peneliti dalam menanggap' persoalannya semakin memperkaya ilmu. Demikian Pula motivasi yang menggarisbawahi keputusan untuk mengambil cara pendekata baru itu berasal dari penemuan bahwa buku pelajaran yang tradision sebagai penuntun dalam metodologi riset hampir tidak menjamin keberhasilan dalam memahami bagaimana sekelompok orang tertent

bertindak atau mengapa mereka mempunyai pola tingkah laku demikian.

Pada tahun 1971, waktu kami untuk pertama kalinya mempertim bangkan soal penelitian kesuburan dan keluarga berencana pad orang-orang jawa, kami merasa bahwa banyak cara yang biasa digunakan untuk mendekati masalah-masalah demografi akan sanga sukar dilaksanakan di jawa. Sensus terakhir telah dilakukan pada tahun itu dan untuk jangka waktu lama tidak akan dipublikasikan, sementara sensus-sensus sebelumnya sangat terbatas dalam ruang lingkup maupun pelaksanaannya. Meskipun program Keluarga Berencana telah didirikan sejak 1968, namun pada tahun 1971 belum ada catatan yang menyeluruh dan baku untuk klinik-klinik di jawa dan Bali. Kecuali itu seandainya data makro semacam itu dapat kami peroleh belum tentu bahwa data itu akan dapat membantu kami memahami berbagai masalah mikro seperti misalnya mengenai pengambilan keputusan kesuburan dan penggunaan keluarga berencana. Akibatnya kami memutuskan untuk meninjau masalah-masalah tersebut pada tingkat komunitas. Tentu saja studi semacam itu harus bersifat kecil-kecilan dan secara relatifjuga intensif, dan menuntut keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan cara itu, kami dapat mengharapkan untuk memperoleh informasi mengenai kehidupan keluarga yang sesuai dengan minat kami.

Rintangan kami yang paling besar adalah kenyataan bahwa kami merencanakan mempelajari suatu topik yang sangat kompleks dan peka dalam suatu kebudayaan yang asing bagi kami. Kami bermaksud. mempelajari konsepsi orang jawa mengenai suami atau istri dan anak-anak, mengenai keyakinan dan adat-istiadat sekitar kelahiran dan mengasuh anak, dan mengenai status ekonomi dan sosial dalam hidup mereka, padahal kami sendiri belum pernah ke Indonesia. Banyak orang, termasuk kami sendiri, merasa sangsi apakah kami akan

berhasil mengumpulkan data yang benar mengenai topik tersebut. Namun banyak juga, termasuk penasehat kami, Dr. Masri Singarimbun, yang tidak berkecil hati dan rupanya yakin kalau kami dapat mengembangkan teknik yang tepat dan mendekati orang dengan sikap hormat dan hati terbuka, maka bahkan masalah yang sulit seperti kemampuan melahirkan dapat terjawab, setidak-tidaknya untuk sebagian, oleh dua orang asing yang tidak berpengalaman. Oleh karma itu pada bulan Pebruari 1972 kami tiba di Yogyakarta, lengkap dengan catatan-catatan, buku dan beberapa ide yang belum pasti, siap untuk mencoba mengadakan penelitian.

2. Sasaran dan Metode Dasar Penelitian

Tujuan utama kami adalah mempelajari tingkat kesuburan di daerah pedesaan Jawa dan perbedaan besar kecilnya keluarga pada berbagai keadaan sosial dan ekonomi. Selain itu kami ingin Pula mengetahui bagaimana penilaian penduduk pedesaan mengenai anak-anak dari segi ekonomi dan sosial, dan sejauh mans kedudukan wanita dalam keluarganya maupun dalam masyarakat mempengaruhi sikap dan tingkah laku mereka dalam melahirkan anak. Seperti telah kami utarakan di atas, waktu masih di Australia kami telah memutuskan bahwa jalan paling baik untuk mengumpulkan informasi mengenai topik semacam itu adalah dengan menggabungkan teknik-teknik yang digunakan oleh ahli antropologi, ahli sosiolofi dan ahli demografi, dan melakukan survei demografi sosial yang intensif pada sebuah komunitas yang kecil. Sebagai bagian integral dari rencana riset, kami akan menetap di dalam komunitas sehingga kami dapat ikut serta dalam kegiatan dan tats cars tetangga kami.

Kami tidak menginginkan survei itu merupakan beban bagi Para warga komunitas. Oleh karma itu telah kami atur agar semua survey dilakukan dengan empat tahap wawancara, yang masing-masing tidak akan memakan waktu 1'ebih dari satu jam. Kami harap pendekatan bertahap itu akan memungkinkan tumbuhnya hubungan antara Para anggota tim riset dengan penduduk setempat. Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum diajukan pada tahap permulaan sebagai usaha memperkenalkan Para peneliti dengan Para responden, dan sesudah itu pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendetail dapat diajukan. Apabila Para peneliti dan Para responden sudah Baling lebih kenal-mengenal, pendek kata, rencana proyek tersebut dimaksudkan agar antara para peneliti dan penduduk setempat terjalin pengertian dan keterlibatan. Jika itu berhasil, maka akan berhasil pulalah pengumpulan data yang terperinci serta lengkap mengenai kesuburan dan tingkah laku sosial.

2.1. Organisasi Proyek Riset

Untuk memutuskan melakukan penelitian komunitas adalah relati mudah, tetapi untuk memilih komunitas yang tepat untuk diteliti adalah amat sukar. Waktu kami tiba di Yogyakarta, kami mula' mencari komunitas yang kami perlukan dengan jalan memeriksa data yang terkumpul dari Sensus Nasional yang diadakan beberapa bulan berselang. Berminggu-minggu kami gunakan untuk memerika

indeks kesuburan di berbagai jenis pekerjaan. Kami tidak mau menelit' suatu daerah di mana semua wanitanya adalah istri petani sebab dengan demikian tidak cukup bahan untuk menarik kesimpulan mengena' wanita yang berasal dari status ekonomi yang berbeda-beda. Ka ' juga tidak ingin meneliti daerah yang terlalu miskin atau terlalu kay sebab hal itu akan mengakibatkan adanya bias dalam penemuan yan kami peroleh mengenai perbedaan kesuburan menurut tingkat sosi dan ekonomi. Jenis komuniti yang kami perlukan ialah yang mat pencaharian penduduknya beraneka-ragam dan merupakan perpadua dari segala macam ciri sosial, agama dan ekonomi yang terdapat d seluruh Jawa. Namun syarat itu sendiri berarti bahwa komunitas yan akan kami pilih tentulah luar biasa sekali, mengingat bahw kebanyakan desa di Jawa tidaklah beraneka-ragam melainkan terutam hidup dari pertanian dan biasanya miskin.

Data sensus itu memberikan beberapa petunjuk yang sanga berharga bagi penelitian kami. Ada beberapa daerah di Yogyakarta d' mana dapat kami temukan desa-desa yang kami cari: daera Sleman-Medari yang menghasilkan tekstil; daerah pinggiran kot Yogyakarta atau ibukota kabupaten-kabupaten; dan daerah sekita Prambanan di bagian timur Daerah Istimewa Yogyakarta. Selam menganalisa data sensus itu, kami berkesempatan mendiskusika keuntungan dan kerugian daerah-daerah itu dengan rekan-rekan d Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada, dan akhirnya kami dapa menyempitkannya sehingga hanya tinggal tiga pilihan saja ialah sebuah desa dekat Sleman, sebuah desa dekat Pelabuhan Udar Adisucipto, dan sebuah kampung di sebelah Omur kota Yogyakarta.

Sampai pada titik itu lalu kami mengunjungi ketiga daerah tadi da mulai bertanya-tanya untuk mengetahui apakah para pejabat daerah mau beketja sama dan apakah pencatatan yang vital dan statistik

ekonomi yang disimpan di kantor desa itu lengkap. Secara khusus kami perhatikan agar daerah yang akan kami teliti itu memiliki statistik registrasi kelahiran yang cukup baik, sebab berdasarkan pengalaman para peneliti lain, kami mengetahui bahwa salah satu informasi yang sukar didapat dalam mengumpulkan data di daerah pedesaan Jawa adalah umur individu. Demi ketepatan perhitungan mengenai kesuburan kaum wanita di daerah itu penting sekali untuk mengetahui umur anak-anak meieka setepat mungkin, dan salah satu cars untuk menjamin hal itu ialah mempunyai catatan kelahiran anak sebagai slat untuk mengecek kebenaran jawaban pada survei itu.

Sesudah dua bulan mencari, memeriksa dan memeriksa ulang laporan-laporan dan statistik dari berbagai macam sumber, akhirnya kami memutuskan bahwa daerah terbaik untuk penelitian ialah Maguwohardjo, sebuah kelurahan di sebelah timur Yogyakarta, dekat sekali dengan pelabuhan udara. Maguwo mempunyai sifat-sifat yang kami inginkan dalam penelitian. Mata pencaharian penduduknya bermacam-ragam, termasuk petani penggarap yang tidak mempunyai sawah sendiri, petani, pejabat pamong praja dan karyawan Angkatan Udara. Maguwo juga mempunyai statistik yang kembali sampai tahun 1951, sehingga kami yakin dapat memperoleh perkiraan umur yang cukup tepat atas penduduk yang dilahirkan selama jangka waktu dua puluh tahun berselang. Para pejabat desa mau bekerja sama dan bersikap positif terhadap rencana mengadakan penelitian di daerah mereka. Sebelum itu kami telah memperoleh ijin dari Kepala Daerah Istimewa, bupati dan camat, sehingga jelas bagi Para ~ejabat kelurahan bahwa kami memperoleh ijin dari yang berwajib.

Namun demikian mereka menyambut kami dengan cara yang melebihi apa yang kami harapkan dan yang pernah kami alami selama ini. Dengan demikian pada bulan April, sesudah kami berada di Yogyakarta selama dua bulan lebih, kami menyewa sebuah rumah di Maguwo, pindah ke rumah itu dan dengan penuh semangat memulai penelitian kami.

2.2. Membentuk Tim Riset

Selama di lapangan kami tidak melakukan penelitian dua orang sendiri seperti yang biasa dilakukan para ahli antropologi, karena untuk menjalankan survei mendetail seperti spa yang kami inginkan i itu, kami memerlukan sejumlah tenaga pembantu yang cukup banyak untuk melakukan wawancara. Kami memutuskan bahwa agar tercapai tujuan yang telah kami gariskan yakni agar tim riset ambil bagian dalam kegiatan dan tats cara komunitas, maka asisten kami juga harus tinggal di desa. Namun kami merasa lebih baik kalau mereka tidak: dipilih dari penduduk tetap Maguwo sebab hal itu pasti akan. menimbulkan berbagai macam kesulitan. Misalnya, jika mereka atau. keluarga mereka terlibat dalam permusuhan yang telah berlangsung lama dengan penduduk desa lain, hal itu pasti akan menghasilkan bias dalam memperoleh wawancara. Kami juga berpendapat bahwa kami bekerja dengan asisten yang mempunyai motivasi yang lebih luas daripada hanya keinginan untuk menerima honor saja. Berdasarkan. pertimbangan-pertimbangan tersebut kami memilih 11 asisten dari kalangan mahasiswa Universitas Gajah Mada yang sedang menjalaniatau baru saja menyelesaikan tingkat sarjana.3 Mereka diminta tinggal di desa dan bekerja selama beberapa waktu tertentu setiap hari, namun mereka juga boleh menggunakan data mana pun dari itu untuk skripsi<>

Kedatangan para mahasiswa itu di desa menandai permulaan risen kami. Sebelum itu kami berdua telah menyelesaikan sebagian besar persiapan riset: menyiapkan rencana acara survei, mencari perabot~ rumah tangga dan peralatan lainnya, memperbaiki rumah dari meneruskan proses yang berkenaan dengan tetek-bengek administratif. Namun proyek itu baru benar-benar dapat dikatakan mulai ketika semua anggota tim telah berkumpul dan makan bersama untuk pertatna kalinya. Mengingat bahwa kami orang asing, maka jelas bahwa kebudayaan penduduk desa itu sama sekali asing bagi kami. Agak jelas juga bahwa para asisten kami itu pun merasa diri berada dalam lingkungan yang asing. Banyak di antara mereka belum pernah tinggal di desa, dan yang bapaknya orang desa pun kebanyakan termasuk keluarga yang bisa dikatakan cukup kaya. Sekarang mereka tidak hanya hidup bersama dengan kelompok asing, termasuk dua

orang bule, namun mereka juga menghadapi segi pedesaan dari kebudayaan mereka sendiri, dan bagi sebagian besar dari mereka, hal itu baru pertama kalinya mereka alarm.

Pada minggu-minggu pertama di lapangan tim riset harus memulai banyak tugas. Pertama-tams menjalin kerja sama dan hubungan dengan pamong desa dan tetangga. Kami menemui lurch, pamong dan para kepala Dukuh di kantor desa. Di situ kami diberi kesempatan menerangkan tujuan riset kami dan mints kerja sama mereka dalam menjalankan survei kami. Selain itu lurch menerangkan beberapa segi khusus dari organisasi desa di Daerah Istimewa Yogyakarta, sejarah desa Maguwoharjo dan berbagai adat dan kebiasaan yang harus kami hormati selama kami tinggal di desa itu. Pertemuan itu merupakan tanda bahwa kami diakui oleh pihak yang berwajib, namun beberapa hari kemudian kami menjalankan upacara yang wajib untuk pengakuan tradisional: kami mengadakan selamatan di rumah kami dan mengundang semua tetangga dan pamong desa untuk bersama-sama kami mencari hubungan balk dan keberuntungan selama kami tinggal di desa itu.

Di hari-hari pertama_ itu kami perlu juga mulai mengumpulkan bahan-bahan yang akan memudahkan kami menjalankan penelitian dan menambah pengetahuan kami mengenai susunan komunitas. Menyalin pets dan daftar tempat tinggal di kantor desa, mencatat surat kelahiran, dan menyalin data yang segudang banyaknya mengenai masalah-masalah ekonomi dan sosial. Accra survei yang pertama telah selesai dibuat selama dua minggu pertama, sensus telah dicetak dan diuji di sebuah desa kecil yang terpencil. Dalam pada itu semua peneliti dilatih secara panjang lebar mengenai cars melakukan sensus, cars menterjemahkan pertanyaan-pertanyaarr dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa selama wawancara. S Tak lama kemudian kami telah siap untuk mulai mengadakan sensus.

2.3. Struktur Survei

Telah kami utarakan bahwa survei itu akan dijalankan secara bertahap. Setiap tahap diharapkan menghasilkan tipe informasi yang konsisten dan secara relatif harus berlangsung singkat sehingga responden tidak merasa bosan atau lelah. Pendekatan serupa itu juga memungkinkan perbaikan atas kuestioner berikut atas dasar informasi dan kesalahan-kesalahan tahap sebelumnya. Oleh karena itu waktu kami merevisi dan mencetak survei ekonomi kami telah mengumpulkan banyak pengalaman dalam bertanya mengenai sekolah, pekerjaan dan susunan rumah tangga dalam sensus. Dengan demikian kami dapat mengembangkan informasi mengenai waktu senggang komunitas dan terutama metode-metode pengumpulan data semakin sempurna pada setiap tahap.

Tahap-tahap survei itu adalah sebagai berikut: Pertama, diadakan sensus dengan mengumpulkan informasi dasar dari anggota-anggota setiap keluarga di seluruh kelurahan. Kedua, dipilih sepuluh dari antara dua puluh desa untuk studi yang intensif dan dilakukan survei ekonomi untuk menentukan status ekonomi dari setiap keluarga dalam daerah yang telah dipilih itu. Wawancara selama survei itu dilakukan oleh para asisten pria. Dalam pada itu para asisten wanita mengumpulkan sejarah kehamilan dan perkawinan dari semua wanita di daerah yang dipilih itu yang berumur antara 15 dan 54 tahun. Tahap terakhir adalah survei sikap. Semua wanita yang menikah dan suaminya ditanyai mengenai sikap mereka terhadap besar keluarga, pertumbuhan penduduk, hubungan keluarga, migrasi, kontrasepsi, dan sebagai tambahan juga ditanyai mengenai penggunaan kontrasepsi mereka. Kaum wanita juga ditanyai tentang sejarah pekerjaan mereka, sedarigkan suami mereka ditanyai tentang pekerjaan anak-anak dalamekonomi keluarga. Dalam wawancara itu kaum wanita juga ditanyai tentang tindak lanjut sejarah kehamilan, termasuk pertanyaan tentang hal-hal yang menentukan jarak kehamilan dan praktek menyusui.

Ringkasnya, survei tersebut sungguh-sungguh intensif. Selain itu'' juga ekstensif, diadakan lebih dari 2400 sensus, 1300 survei ekonomi,; 1500 sejarah kehamilan, 900 survei tindak lanjut sejarah kehamilan dan~ 1800 survei sikap. Usaha semacam itu menuntut acara kerja yang padat' dari pihak tim riset, dan oleh karena itu banyak metode "informal" untuk pengumpulan data tidak dijalankan sebagaimana dikehendaki oleh para anggota tim. Namun acara yang padat itu Bering banyak juga manfaatnya. Pertama, menanamkan disiplin pada tim peneliti dan memaksa kami melangkah secara tetap. Selama berbulan-bulan bekerja keras menangani pekerjaan yang berhubungan dengan survei, tugas mengumpulkan data secara informal merupakan waktu luang yang cukup berguna. Kedua, survei itu memaksa tim untuk senantiasa rnemusatkan perhatian secara lebih tepat dan terus-menerus memperhalus sasaran proyek itu. Oleh karenanya informasi yang diperoleh dari sumber-sumber yang lebih informal juga cenderung untuk semakin terpusat. Akhirnya, tujuannya pun dapat dirasakan dalam komunitas. Para ahli antropologi sering mengalami bahwa setelah beberapa saat berada di lapangan, Para tetangga mereka mulai merasa curiga dan bahkan sering kali juga memandang mereka sebagai mata-mata karena apa yang mereka lakukan tidak segera nampak hasilnya. Namun dengan melihat tumpukan kuestioner di rumah kami dan jam jam kerja yang tetap sebagai tanda nyata dilakukannya sesuatu pekerjaan, segera saja tim itu memperoleh kepercayaan dari sebagian terbesar tetangga. Bahkan sering kali tetangga kami menganggap kami kerja terlalu berat dan menasehatkan agar tidak terlalu memaksa diri, dan tidak jarang nasehat itu memang tepat.

3. Menerapkan Teknik-teknik Survei pada Sebuah Desa di Jawa

Riset telah diorganisasi, timnya telah terbentuk, dan survei dimulai pada bulan Juni 1972. Semuanya bed alan sesuai dengan rencana kami semula, dan kami semua merasa gembira karenanya. Pembaca mendapat kesan seakan-akan itu berarti bahwa proyek itu menyerupai mesin yang terawat baik: sekah dimulai, segalanya berjalan dengan sendirinya karena setiap "teknik" tinggal menerapkan secara bergantian tanpa penyimpangan atau kemacetan. Padahal kenyataannya jauh dari itu. Soal-soal kecil muncul setiap hari misalnya bagaimana suatu formulir harus diisi, apa yang harus dilakukan kalau yang ditanya tidak mau menjawab, pensil macam apa yang harus digunakan, pada hari Kenaikan Isa Almasih diadakan wawancara atau tidak, dan sebagainya. Semua persoalan semacam itu menuntut keputusan dan kerja sama anggota tim.' Namun perkembanganperkembangan semacam itu memang telah kami perkirakan sebelumnya, dan dalam rencana kami pun telah kami bayangkan akan adanya ratusan pefsoalan semacam itu, dan kami pun harus menerima kenyataan bahwa dalam menjalankan tujuan dasar proyek tersebut kami harus mengembangkan cars-cara untuk tetap mempertahankan fleksibilitas. Kecuali itu kami pun telah mengambil prinsip umum bahwa proyek itu harus selaras dengan pola dan irama hidup dalam komunitas baru kami itu. Dengan demikian banyak keputusan dapat diambil dengan begitu saja berdasarkan prinsip tersebut.

Hal-hal tersebut dapat digambarkan secara lebih jelas dengan menunjukkan beberapa persoalan yang muncul di lapangan. Persoalan tersebut ada dua jenis. Pertama adalah persoalan yang menyangkut metode untuk memperoleh informasi yang tepat. Misalnya, kami menghadapi persoalan yang berkaitan dengan membuat pertanyaan yang mempunyai makna dan bisa diterima oleh penduduk desa; singkatnya tahu apa yang harus ditanyakan dan bagaimana menanyakannya. Kami juga harus mengembangkan cara-cara membuat verifikasi dari informasi itu melalui pengecekan sumbersumber lainnya seperti catatan resmi, kata-kata tetangga, dan konsistensi dengan jawaban jawabannya terhadap pertanyaanpertanyaan lainnya. Persoalan jenis kedua berkaitan dengan pelaksanaan riset itu sendiri. Pada dasarnya persoalan ini berkisar sekitar pertanyaan bagaimana tim riset bisa semakin sejalan dengan komunitas? Secara relatif persoalan semacam itu mungkin jauh dari hal-hal seperti soliditas data dan tepatnya jawaban jawaban, namun sebenarnya semua itu merupakan inti dari metode studi komunitas.

4. Persahabatan, Penerimaan dan Partisipasi dalam Hidup Desa

Selama berlangsungnya survey ada rasa puas di antara para anggota tim, Setiap hari tumpukan hasil pekerjaan yang sudah dilaksanakan bertambah tinggi, dan perlahan-lahan masing-masing tahap survey itu diselesaikan dan tahap berikutnya dimulai. Hasil-hasil dari tahap sebelumnya ditabulasikan di lapangan, dan ini memungkinkan ka untuk pertama kalinya menyaksikan data yang menggembirakan, d untung ternyata dapat dipertanggungjawabkan. Pelaksanaan pekerja an itu menuntut banyak sekali tenaga kami: berjam jam kami gunaka untuk berwawancara setiap harinya, untuk pengecekan dan koding dan lagi juga harus disisihkan waktu untuk persiapan acara-acar berikutnya dan melatih para asisten mengenai cara-cara penggunaan nya. Survei itu merupakan pekerjaan yang menyita seluruh waktu ba setiap anggota tim, sehingga pada sore hari kami semua meras membutuhkan istirahat dan selingan.

Kadang-kadang kami juga merasa menyesal karena survei it' menyita begitu banyak waktu kami sehingga kami tidak semp melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh para ahli antropologi Kami jarang bisa menggunakan waktu berkepanjangan untu menyaksikan persiapan panen padi di suatu desa atau pergi ke suat tempat di mana sedang dicoba mesin baru. Kami sering ingin tingg lebih lama dan menyaksikan seorang pemahat mengukir batu ata seorang pandai besi, dan kami tidak bisa mengajukan pertanyaan pertanyaan mengenai pekerjaan dan pemasaran yang akan memberi kan pengertian lebih mendalam mengenai keadaan ekonomi daera itu. Rasanya kami selalu dituntut agar buru-buru pindah ke desa lain Di lain pihak survei itu membawa keuntungan karena memaksa ka untuk memusatkan perhatian kami pada pokok riset dan mengendali kan rasa ingin tahu kami. Jika tidak demikian tentu tidak musta kami akan terseret ke hal-hal sampingan yang menarik tetapi tida relevan. Seperti apa yang telah kami utarakan sebelumnya, surve tersebut juga memberikan peranan bagi kami dalam komunitas. Ka adalah orang-orang yang sedang berusaha mengumpulkan data, da meskipun tetangga-tetangga kami tidak seluruhnya mengetah dengan tepat untuk apa survei itu, namun setidak-tidaknya merek menganggap pekerjaan itu mempunyai arti ilmiah yang penting da menghargainya pula.

Dalam jagongan atau pertandingan badminton kami lalu bisa jug bicara mengenai "pekerjaan" kami sebagaimana halnya tetangga, tetangga kami bicara mengenai pekerjaan mereka. Memang pekerjaa kami agak lebih bersifat tersembunyi, namun pada umumnya merek tidak sukar bicara mengenai tumpukan kertas-kertas yang menggu nung dan acara-acara yang menarik perhatian mereka. Misalnya, suat sore menjelang matahari terbenam, seorang tetangga lewat di depa rumah dan mampir sebentar untuk mengobrol. Ia menggendon anaknya yang masih kecil dan menyuapinya dengan bubur. pembicaraan sampai pada survei ekonomi, dan ternyata bahwa beberapa hari sebelumnya is baru saja diwawancara. Saudara tahu, katanya, semua pertanyaan mengenai pekerjaan yang dilakukan anak-anak itu sebenarnya kurang kena. Yang penting bukannya jumlah yang dihasilkan untuk keluarga, melainkan alasan mengapa orang-orang tua menganjurkan mereka agar bekerja, dan biasanya ialah karena mereka mau mendidik dan melatih anak-anak bekerja keras sehingga mereka nantinya siap memasuki hidup sebagai orang dewasa. Pengamatan tersebut penting sekali, dan justru semakin rnenarik karena timbul begitu saja selama kami mengobrol. Sebagai akibat kejadian-kejadian semacam itu kami bisa semakin mengetahui bagaimana pandangan orang-orang yang diwawancxra mengenai survei tersebut, dan dengan demikian kami lebih siap untuk menganalisa hasilnya. Tambahan pula hal itu mempermudah penyusunan acara berikutnya dan menafsirkan jawaban jawaban yang kami terima dalam survei itu.

Sering kali terjadi bahwa meskipun kami tidak bicara mengenai survei, namun bahan pembicaraan perlahan-lahan berkembang, dari rasa ingin tahu mengenai asal-usul kami dan adat-istiadat kami, menjadi bahan riset dan akhirnya sesudah beberapa kali bertemu berpindah ke hal-hal "duniawi" yang biasanya menjadi bahan pembicaraan orang-orang desa. Seseorang jatuh dari potion kelapa, harga pupuk, rencana membangun hotel baru, biaya pendidikan dan organisasi kerja untuk suatu proyek kemajuan, semua itu menjadi bahan pembicaraan. Tentu saja kami tidak bisa menyumbang banyak dalam pembicaraan itu dengan gagasan=gagasan yang orisinal. Kami hanya duduk mendengarkan apa yang mereka katakan, dengan sekali-kali menyela mengajukan pertanyaan tentang latar belakang bahan pembicaraan itu, atau minta penjelasan.

Jagongan merupakan kesempatan paling baik untuk ikut serta dalam pembicaraan semacam itu karena pada umumnya jagongan dimulai pada pukul 21.00 dan berlangsung sampai lewat ftengah malam, kadang-kadang bahkan sampai menjelang subuh. Orang-orang duduk sambil main kartu, makan camilan dan dengan santai mengobrol tentang kejadian-kejadian yang masih hangat. Pada saat-saat semacam itu mustahil kita tidak mendengar sesuatu yang penting untuk proyek riset, sebab jarang terjadi bahwa orang-orang berkumpul tanpa membicarakan masalah-masalah keluarga, ekonomi, dan struktur masyarakat setempat.

5. Penilaian atas seluruh pengalaman Kerja Lapangan

Balam analisa terakhir kami berpendapat bahwa gabungan antay teknik-teknik yang digunakan oleh para peneliti survei dan para ah antropologi dengan setting pedesaan dapat dikatakan berhasil buka karena memberikan pengertian penuh kepada kami mengen kesuburan dan keluarga berencana dalam komunitas, melainkan karena memberikan pengertian yang lebih baik daripada yang bisa kani harapkan dari cara pendekatan lain mana pun, dengan biaya dan wakt yang sebanding. Kemajuan survei itu sangat didukung oleh pemusatan diri pada satu daerah geografi, dan dengan demikian memanfaatkal teknik-teknik verifikasi data yang sering kali menelan biaya yang sangat mahal dalam survei sampel yang luas. Salah satu comoh ialah penggunaan surat kelahiran, kemungkirfan pengecekan-bandit menuntut hubungan ekonomi antara berbagai orang dan keluarga d, desa. Kecuali itu penggunaan pendekatan bertahap dalam melaksan akan acara survei memungkinkan perbaikan terus-menerus atas rnetode-metode pengumpulan informasi. Pertanyaan-pertanyaan inengenai umur, pekerjaan, sekolah, kesuburan dan banyak hal lainnya yang telah diajukan pada acara-acara sebelumnya diperbaiki pada tahap-tahap berikutnya, dan dapat dilihat perkembanganperkembangannya dengan membandingkannya dengan jawabanjawaban sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan yang peka dapat lebih mudah ditangam sesudah ada pengalaman atas pembicaraanpembicaraan informal mengenai hal-hal tersebut, dan dengan menguji perumusan-perumusan lain untuk mengembangkan pertanyaanpertanyaan yang tidak menyinggung perasaan namun tetap memancing jawaban jawaban yang relevan dan benar. Contohnya ialah pengalaman kami dengan pertanyaan mengenai ukuran besar-kecil. keluarga yang ideal, sedangkan contoh lainnya ialah pertanyaan mengenai penghasilan, penggunaan slat-alat kontrasepsi dan agama.

Akhirnya tidak pernah boleh dilupakan, bahwa selama penelitian dan juga sekarang ini, kami tetap menjadi orang luar, meskipun kami dianggap teman, bagi komunitas di Maguwoharjo. Sebagaimana telah kami utarakan pada permulaan tulisan ini, tujuan kami ialah mengukur tingkah laku kesuburan dan keluarga berencana dari komunitas itu. Kami tidak pernah mencapai tingkat hubungan mendalam yang diperlukan oleh antropologi, yang misalnya mempelajari perasaanperasaan religius, dan kami juga tidak diterima sebagai anggota penuh komunitas itu. Namun kami toh berhasil mengembangkan persahabatan yang akrab, kami mempunyai banyak kenalan, dan lama-kelamaan kami pun dipercaya oleh sebagian besar komunitas. Akibatnya kualitas riset itu pun semakin bertambah dan kami semakin siap untuk menafsirkan hasil-hasilnya. Sekarang kami meninjau kembali pekerjaan itu, dan bertanya kepada diri sendiri, apakah itu sosiologi, antropologi, demografi, atau ketiga-tiganya sekaligus?

Mungkin pekerjaan itu mengandung unsur-unsur. dari masingmasing cabang ilmu itu, namun sewaktu kami berkecimpung dalam pekerjaan itu kami tidak pernah mempedulikan batas-batas disiplin ilmu tersebut. Kami mencoba mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tanpa peduli akan disiplin ilmu yang akan menerangkan berbagai segi tingkah laku manusiawi, dan melakukannya dengan hormat tetapi tanpa kehilangan ketepatan. Rasa hormat merupakan kunci, bukan hanya untuk merancang dan mengajukan pertanyaanpertanyaan dalam survei secara berhasil, melainkan juga dalam setiap hubungan yang ada antara tim riset dengan komunitas. Memelihara rasa hormat menuntut empati yang semakin berkembang dan memaksa kami untuk mencoba memahami situasi yang dihadapi oleb; para tetangga kami dengan lebih baik. Dengan demikian dalam analisa. terakhir perkembangan hubungan saling menghormati memaksa. kami untuk menanggapi orang tidak hanya sebagai petani atau pejabat, sebagai orang Islam atau Kristen, kaya atau miskin, melainkan sebagai: individu-individu yang kompleks yang saling berbeda dalam hal harapan, kebutuhan, kekuatan dan kelemahan. Perpaduan antara teknik-teknik survei dan antropologi memungkinkan kami mengumpulkan data dengan cara yang pada hemat kami, paling mencerminkan sifat kaya dan kompleks komunitas tersebut.

Meneliti Pembangunan Masyarakat Desa Gayo di Aceh Tengah

1. Masalah Penelitian

Mulai akhir triwulan pertama tahun 1974, saya diberi kesempatan oleh Universitas Indonesia untuk melakukan penelitian di daerah pedesaan Gayo, Aceh Tengah, selama masa satu tahun. Adapun yang menjadi masalah pokok dari penelitian ialah, meneliti sejauh mana faktor-faktor sosial-budaya mempengaruhi kemakmuran masyarakat desa di daerah ini. Di samping itu saya harus berusaha menghimpun sebanyak mungkin data-data etnografis, yang memang sejak deskripsi etnografis dari C. Snouck Hurgronje Het Gayoland en zijn Bewoners (1903) yang sangat kurang lengkap itu, sepanjang pengetahuan saya belum pernah dilukiskan secara menyeluruh. Masalah pokok dari penelitian sudah barang tentu terlebih dahulu memerlukan perumusan dari konsep "kemakmuran", yang sebenarnya bersifat sangat relatif Konsep kemakmuran untuk keperluan penelitian ini, saya dasarkan atas pendirian bahwa orang bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer dalam kehidupannya sehari-hari dan di samping itu, masih bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam hal meningkatkan mutu hidupnya. Kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari dari orang pedesaan Gayo saya ukur dengan metode penelitian anggaran rumah tangga dari dug sampel rumah tangga petani, dari dug bush desa yang diperkirakan berbeda kemakmurannya.

Anggaran rumah tangga mengandung unsur-unsur berupa anggaran penerimaan dan pengeluaran, yang tentunya dapat dipecah lagi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil. Adapun mengenai anggaran penerimaan rumah tangga di desa-desa yang diteliti itu pada khususnya atau di daerah Gayo pada umumnya;-diperkirakan adanya unsur-unsur berupa hasil pertanian ialah hasil sawah, hasil (ladang) empus seperti kopi, tembakau, buah-buahan, palawija, kayu api dan lain-lain. Penerimaan dari pekerjaan sebagai buruh ialah upah, uang lembur dan lain-lain, atau sebagai pegawai, ialah misalnya gaji, uang lembur, rumah instansi, kendaraan dims, memburuh (lung-upah), guru pengajian, mendukun (guru kampung). Penerimaan rumah tangga yang lain berasal dari misalnya pemeliharaan ternak, menangkap ikan, usaha dagang, hadiah atau pemberian, hasil kerajinan, memberi pertunjukan kesenian, menang lotre dan lain-lain.

Adapun anggaran pengeluaran rumah tangga, diperkirakan adanya unsur-unsur pengeluaran biaya harian misalnya untuk membeli bergs, sayur-mayur, bumbu-bumbuan, bubuk kopi, gula, ikan, daun nipah, tembakau, rokok putih, minyak lampu, minyak kelapa, kayu api, jajan, alat makan sirih, sabun cuci dan lain-lain. Pengeluaran rumah tangga yang lain berupa pengeluaran bulanan seperti misalnya uang sekolah anak, sewa rumah, peralatan sekolah anak, biaya anak yang sekolah di luar daerah Gayo, membeli sabun mandi, potong rambut, membeli minyak rambut, membayar pajak radio, menabung, menyambung jolo-jolo (arisan), membayar kredit, odol dan lain-lain. Pengeluaran rumah tangga insidencal adalah misalnya membeli pakaian, alat rumah tangga, membiayai perbaikan rumah, rekreasi, upacara atau pesta (sinte), memberi hadiah atau bingkisan, membayar zakat fitrah, memberi aural, membeli alat penangkap ikan, alat anyam-anyaman, radio, tape recorder, pita (cassette), batu baterai, sepeda, sepeda motor, biaya servis, pajak kendaraan bermotor, pengobatan, asuransi dan lain-lain. Ada lagi anggaran pengeluaran dalam rangka biaya produksi pertanian, seperti membeli benih padi, benih .tanaman lainnya, pupuk, mengeluarkan upah untuk buruh sawah dan ladang, sewa sawah (garal), sewa hewan, sewa alat-slat pertanian, mengeluarkan biaya bejamu, merribeli alat-alat pertanian seperti pacul, parang, bajak, igu, tersik, karung, tikar, ancak, pisau tembakau, atap, mesin giling kopi dan lain-lain. Dari total anggaran rumah tangga dari masing-masing kedua desa yang diteliti, dihitung rata-rata pengeluaran kebutuhan pexincian sehari-hari rumah tangga, serta rata-rata pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan akan mutu hidup perorangan, dan kalau is seimbang dengan rata-rata penerimaan rumah tangga, maka dapat diperkirakan bahwa penduduk masyarakat yang bersangkutan adalah "makmur". Perbedaan antara desa pertama dan kedua yang berupa perbedaan antara dug angka rata-rata itu, tentunya harus dikuatkan dengan kenyataan pemilikan benda-benda material yang diketahui

dengan wawancara dan observasi dari kedua desa. Kemudian akan timbul pertanyaan, apakah yang menyebabkan terjadinya perbedaan itu. Kemakmuran itu memang dimungkinkan oleh faktor-faktor yang bersifat ekonomis, seperti luas dan suburnya tanah, sumber-sumber alam yang kaya, tenaga kerja yang massal dan murah, kecakapan teknologis dan ekonomis, serta modal yang cukup. Namun dalam perbandingan ini kemungkinan yang ditimbulkan oleh faktor-faktor tersebut, tidak meyakinkan sebagai penyebab perbedaan kemakmuran, karena desa-desa yang diteliti mempunyai ciri ekonomis yang kurang lebih sama. Para ahli ilmu sosial kemasyarakatan, termasuk ahli ekonomi, rupanya telah menyadari bahwa untuk mencapai kemakmuran itu syarat-syarat ekonomi yang primer itu rupa-rupanya masih amat tergantung kepada faktor-faktor sosial-budaya, seperti faktor demografis, susunan kemasyarakatan organisasi sosial, adat-istiadat dan orientasi nilai budaya atau sikap mental (Koentjaraningrat, 1969: 7). Dalam penelitian ini faktor-faktor yang non-ekonomis atau faktor sosial-budaya itu menjadi titik berat perhatian saya.

Penelitian semacam ini pernah saya lakukan di daerah pedesaan di Jawa Tengah dalam tahun 1970 dengan memperbandingkan perbedaan kemakmuran di dua buah dukuh dari satu desa dengan memperhatikan faktor sosial-budaya sebagai penyebab dan perbedaan tadi. Dalam penelitian itu telah saya ambil suatu kesimpulan bahwa faktor kepemimpinan dukuh, baik yang resmi (forrnal leaders) dan yang tak resmi (informal leaders) rupanya sangat menentukan situasi kemakmuran dari kedua dukuh yang diteliti (Melalatoa, 1972: 192-217). Apakah faktor semacam ini juga ikut mempengaruhi pembangunan ekonomi atau kemakmuran di daerah pedesaan Gayo? Bagaimana peranan tokoh-tokoh -kepemimpinan dalam usaha ekonomi (entrepreneur) dalam pembangunan masing-masing desa? Selain daripada itu faktor-faktor perbedaan orientasi terhadap ~, norma-norma adat, orientasi terhadap jenis mata pencaharian hidup yang baru, atau perbedaan pola menetap akibat orientasi terhadap jenis mata pencaharian hidup itu, juga akan mempengaruhi keadaan yang berbeda itu.

Saya menyadari bahwa dalam satu masyarakat itu, satu gejala tidak V erlepas dari gejala lainnya. Demikian pula masalah sosial-budaya ;ebagai masalah non-ekonomis, tenru tidak akan terlepas dan akan nempengaruhi masalah-masalah ekonomi itu sendiri. Oleh karena itu ialam penelitian saya telah saya perhatikan bagaimana hubungan >erfungsi antara sistem ekonomi sebagai salah satu unsur kebudayaan lengan unsur-unsur kebudayaan lainnya yakni dengan sistem sosial, istem pengetahuan, sistem peralatan, religi dan mungkin juga kesenian. Dalam rangka korelasi antara sesama unsur kebudayaan ini, maka unsur-unsur kebudayaan dari kedua masyarakat desa yang diteliti khususnya atau masyarakat Gayo umumnya, sudah seharusnya diteliti secara mendalam.

Patut kiranya dicatat bahwa pelukisan tentang kebudayaan Gayo yang disajikan oleh C. Snouck Hurgronje dalam buku tersebut di atas, yang telah terbit lebih dari 70 tahun yang lalu itu, dalam banyak hal sudah tidak cocok lagi dengan keadaan sekarang. Ada pula satu penelitian yang dilakukan oleh Jurusan Antropologi, Universitas Indonesia, dalam tahun 1972 yang lalu dengan memfokus kepada masalah perubahan sosial. Penelitian tersebut mungkin tidak memberikan gambaran yang mendalam tentang unsur-unsur kebudayaan Gayo, karma penelitiannya yang berlangsung dalam waktu yang singkat. (Vredenbregt, 1973 dan 1974). Lebih lanjut kalau kita dapat meneliti buku-buku tentang

masyarakat dan kebudayaan Gayo termasuk Alas, yang disajikan oleh Raymond Kennedy dalam Bibliography of Indonesian Peoples and Cultures (1962) seluruhnya berjumlah 34 buah. Dari jumlah ini hanya sebagian kecil yang khusus membicarakan kebudayaan dan suku bangsa, karma di antaranya ada yang berupa kamus dan laporan perjalanan. Buku-buku ini hampir seluruhnya berasal dari permulaan abad ini, bahkan banyak yang berasal dari akhir abad yang lalu. Karangan-karangan atau buku-buku dari mass terakhir tentang kebudayaan Gayo, artinya di luar judul judul yang telah dikumpulkan oleh Raymond Kennedy, sepanjang pengetahun saya malahan

jumlahnya lebih sedikit. Di antaranya hanya beberapa buah yang dapat dikatakan karangan yang bersifat ilmiah.2 Ada pula beberapa karangan ilmiah, yang tidak khusus membicarakan kebudayaan Gayo, tetapi hanya membuatnya sebagai contoh atau dalam rangka suatu perbandingan.

Karma masih terbatasnya sumber-sumber tertulis dari suatu hash penelitian yang mendalam, sehubungan pula adanya'hipotesa khusus yang akan berkaitan dengan berbagai perwujudan kebudayaannya, maka diperlukan keterangan-keterangan yang lebih luas. Keterangan- keterangan yang dimaksud selain mengenai unsur-unsur kebudayaan-nya, juga mengenai sejarah desa-desa penelitian serta sejarah Gayo umumnya, seperti sejarah masyarakatnya, sejarah ekonomi, demografi, komunikasi dengan dunia luar dan lain-lain.

2. Metode Penelitian yang dipakai

Metode yang digunakan adalah metode-metode yang telah sering digunakan dalam penelitian antropologi khsususnya atau ilmu-ilmu sosial lain umumnya. Dalam penelitian ini telah digunakan dua macam schedule dan sebuah kuestioner. Schedule pertama adalah untuk mengetahui anggaran rumah tangga dari kedua desa yang dipilih sebagai lokasi penelitian. Schedule yang lain adalah untuk mengetahui dasar-dasar yang menyangkut faktor sosial-budaya dan yang ketiga kuestioner mengenai nilai budaya. Oleh karena jawaban jawaban yang diperoleh dengan schedule dan kuestioner lebih bersifat kuantitatif, maka masih perlu dilakukan pendalaman melalui wawancara terutama untuk sejumlah pertanyaan tertentu.

Untuk mendapatkan keterangan yang bersifat etnografis seperti telah disinggung di atas, telah dilakukan beberapa bentuk wawancara seperti wawancara berfokus dan wawancara bebas. Selain. itu guns mendapatkan keterangan yang lebih luas lagi kadang-kadang dilakukan wawancara sambil lalu (casual inteview). Kepada sejumlah orang tertentu yang dianggap sebagai tokoh pimpinan dalam masyarakat kedua desa telah dilakukan pengumpulan keterangan mengenai pengalaman hidupnya (individual's life history). Selama melakukan penelitian dengan waktu yang tersedia cukup lama, telah dilakukan juga metode pengaWatan berpartisipasi. Dengan metode ini saya hendak memperdalam pengetahuan saya mengenai nilai-nilai dan norms-norms yang sedang tumbuh dalam masyarakat yang bersangkutan. Hasil yang saya peroleh dengan berbagai metode penelitian tersebut di atas, masih harus dilengkapi dengan mengumpulkan data primer. Data primer ini diperoleh dengan jalan mencari dan mencatat dari arsip instansi tertentu di daerah ini. Namun karena data yang tersedia tidak memenuhi kebutuhan, maka telah dilakukan pengumpulan sendiri data-data tersebut.

3. Beberapa Masalah Operasional

Izin penelitian. Penelitian di daerah pedesaan Gayo ini dilakukan atas dasar penugasan yang diberikan jurusan Antropologi, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, untuk kepentingan mana saya harus mendapat izin resmi dari Dekan Fakultas Sastra UI di mana selama ini saya mengabdi sebagai salah seorang tenaga pengajar. Izin dari Fakultas Sastra ini menjadi dasar untuk menerima izin dari instansi lain, seperti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Departemen Dalam Negeri (Direktorat Pemerintahan Umum), yang masing-masing ditujukan kepada Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh dan instansi lainnya di daerah tersebut. Izin yang didapat dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Jakarta itu, sebenarnya diperuntukkan bagi peneliti-peneliti asing yang melakukan penelitian di Indonesia. Namun memang tidak ads salahnya untuk dimintakan, karena dalam kenyataannya di lapangan surat seperti ini mempunyai manfaat yang besar.

Untuk mengurus izin penelitian ini di Jakarta pada dasarnya tidak ditemukan kesulitan spa pun. Namun pihak pembimbing kami berpendapat bahwa dalam rangka penelitian yang berjangka relatif lama seperti ini sebaiknya mengikutsertakan keluarga. Saya masih ingat akan ucapannya: "Saudara mungkin tidak bisa bekerja lebih baik tanpa membawa keluarga; di samping itu, istri Saudara dapat membantu pekerjaan di lapangan". Ucapan ini dapat saya yakim berdasarkan pengalaman sebelumnya yang hanya melakukan penelitian beberapa bulan saja. Oleh karena istri saya juga bekerja sebagai pegawai negeri, maka,sudah seharusnya diperlukan izin untuk membebaskan dari tugasnya selama setahun itu. Namun berdasarkan peraturan yang berlaku izin itu tidak dapat-diterima, meskipun untuk cuti di luar tanggungan negara. Akhirnya istri tidak jadi berangkat, meskipun kemudian is menyusul juga sekedar untuk menghabiskan waktu liburnya. Dalam kenyataannya ketidakhadiran anggota keluarga untuk bersama-sama bekerja di lapangan, memang cukup berpengaruh terhadap jalannya penelitian.

Dengan surat izin yang ads saya berangkat ke Aceh pada tanggal 20 April 1974, yang 20 hari lebih lambat dari tanggal yang semestinya. Surat izin tadi diserahkan kepada Gubernur yang diteririza oleh Assisten 1. Dalam tempo satu hari kerja saja, nota dinas dari Gubernur yang ditujukan kepada Bupati Aceh Tengah, dapat saya terima. Selama dua hari hal-hal lain yang menyangkut penelitian di lapangan dapat diselesaikan di Bands Aceh, sehingga pada tanggal 23 April 1974 saya menuju kota Takengon di Aceh Tengah.

Selama di Bands Aceh saya ~iikunjungi oleh beberapa orang teman lama, yang umumnya pegawai negeri termasuk beberapa orang dosen. Dari pertemuan dengan mereka, ads dua kesan yang menarik hati saya. Pertama, kebaikan dan besarnya perhatian mereka untuk membantu saya, misalnya mengantar untuk menyelesaikan urusan-urusan saya. Kalau diminta bantuannya untuk mencari bahan-bahan tertulis berupa buku ke instansi-instansi tertentu, yang pasti berguna untuk penulisan yang akan datang, tampaknya mereka berusaha dengan sungguhsungguh. Hal yang kedua yang juga cukup menarik perhatian saya, rata-rata mereka banyak bertanya tentang pangkat dan golongan saya dalam status sebagai pegawai negeri. Oleh karma saya tidak menduga akan mendapat pertanyaan-pertanyaan yang demikian, dengan tidak sengaja saya telah sempat menjawab mereka, bahwa saya lupa golongan spa saya sekarang; karma selama in' di Jakarta di antara kolega di lingkungan kampus hampir tidak pernah membicarakan soal itu.3 Malahan mereka hafal tentang golongan dan pangkat teman-temannya di Bands Aceh; si Anu sudah golongan "x", si Polan sudah golongan "z". Pola seperti ini ternyata saya temukan juga ketika sudah sampai di Takengon. Malahan ketika kami akan pulang, banyak para pegawai yang mints bantuan supaya diuruskan kenaikan pangkatnya di Jakarta. Di kota ini pun tampak di kalangan mereka menghafal pangkat atau golongan pegawai lainnya, terutama yang berpangkat atau bergolongan tinggi.

Nota dims yang berasal dari Gubernur diteruskan kepada Bupati Aceh Tengah, dengan maksud untuk mendapatkan nota dims yang akan diteruskan kepada eselon bawahannya secara beranting yaitu Camat, Mukim, seterusnya kepada Gecik di mans penelitian dilakukan. Nota dims dari kantor Bupati Aceh Tengah ini ternyata cukup lambat keluarnya. Keterlambatan ini mungkin bukan atas dasar kesengajaan, tetapi mungkin karma mereka melihat mass penelitian ini cukup lama sehingga tak perlu terburu-buru. Kemungkinan lainnya karma saya berasal dari daerah ini sendiri, sehingga mereka tidak begitu terdorong untuk mempercepatnya; atau memang sudah demikian pola bekerja mereka. Dari pihak masyarakat sendiri begitu melihat kita sebagai orang barn, yang kebetulan berasal dari lingkungan perguruan tinggi, sebagian terus dapat menduga bahwa kita melakukan penelitian, di mans mereka menyebutnya dengan istilah "riset".

Sementara menunggu keluarnya rekomendasi dari kantor Bupati untuk dapat turun ke lapangan secara langsung, kita dapat mengisi waktu dengan pekerjaan-pekerjaan lain. Selama itu saga dapat melakukan observasi ke desa-desa lokasi penelitian dan mengadakan

wawancara kepada beberapa informan untuk lebih meyakinkan hipotesa yang telah digariskan sebelumnya. Saya juga menyiapkan pengetikan dan penstensilan Schedule dan kuestioner yang tidak mungkin dibawa dari Jakarta. Sementara itu karma saya kebetulan berasal dAri daerah imi sendiri, pada hari-hari pertama banyak didatangi oleh para kerabat dan tetangga. Mereka datang untuk menanyakan

tentang anaknya atau kerabat-kerabatnya yang ads di Jakarta; bahkan ads yang datang hanya sekedar mengobrol saja. Di antara kerabat yang kebetulan sedang konflik dengan orang atau kerabat yang lain, juga mengajukan masalahnya kepada saya. Adapun masalah yang umum mereka kemukakan ialah yang menyangkut soal harts, soal warisan. Mereka tidak mau tahu bahwa kedatangan saya ke daerah ini bukan untuk jadi pokrol, meskipun hal yang demikian ini akhirnya banyak sangkut-pautnya dengan penelitian ini.

Ada beberapa kasus, yang garis hubungan kekerabatannya sudah sedikit jauh dengan saya, yang selama ini tidak ads kontak sama sekali, kini datang mengunjungi saya mengadukan persoalan pribadinya. Kedatangannya ini sebenarnya cukup beralasan, karma mereka mendapat kabar bahwa saya ini adalah seorang SH (sarjana hukum). Menurut pikirannya, sangat tepatlah mengadukan problem yang sedang dialaminya kepada orang yang mengerti-hukum ini, sehingga is akan memperoleh kemenangan dalam perkaranya nanti. Kehadiran orang-orang seperti ini terhadap orang pendatang baru, rupanya sudah merupakan gejala umum sejak belasan tahun yang lalu. Bahkan sejak mass yang sudah cukup lama itu di daerah ini telah bermunculan pokrol-pokrol bambu. Kalau dapat saya melihatnya akibatnya keretakan dalam hubungan kekeluargaan menjadi semakin parah, yang sebagian besar bersumber dari motif yang bersifat ekonomis.

Ada satu gejala umum yang lain yang dapat kita amati pada mass-mass pertama kita berada di lingkungan masyarakat daerah ini. Hal ini saya singgung karena keseluruhan sikap mereka itu, seakan-akan merupakan suatu bentuk "izin" dari masyarakat itu sendiri, terhadap suatu pekerjaan penelitian seperti ini. Pada mass-mass pertama mereka umumnya menyambut dengan ramah dan mengadakan pendekatan-pendekatan tertentu. Selama itu mereka menunjukkan sikap ingin tahu terhadap peneliti dan pekerjaannya. Berikut ini barangkali saya dapat menunjukkan sekedar beberapa contoh. Seorang tukang listrik yang bekerja membongkar sebuah bang listrik yang kebetulan persis di depan tempat pemondokan saya, datang bertanya: "Mengenai soal spa sebenarnya yang di-'riset' di sini", yang sebelumnya sudah mengetahui tentunya bahwa saya melakukan penelitian di daerah ini. Ada orang yang tampaknya dengan sengaja menemui saya, seraya bertanya tentang tujuan kedatangan saya. la mengatakan perasaannya seperti tidak enak kalau belum mengetahui tujuan kedatangan saya. Seorang yang rupanya telah mengetahui bahwa kedatangan saya akan cukup lama di daerah ini, tampak langsung memberikan pendapat: "Jangan sampai lama di sini, sebab Saudara bisa menjadi bodoh". Kemudian dilanjutkan sambil berseloroh, - tapi selorohnya itu saya anggap cukup jujur -, "lagi pula kalau orang-orang seperti Saudara datang, kami tak punya harga". Ada lagi orang yang berpendapat sebaliknya: "Kedatangan orang-orang seperti Saudara meskipun hanya sebentar menyebabkan kami merasa tentram". Beberapa kasus orang berusia tua mempunyai pendapat yang sama: "Hendaknya ada dua-tiga orang seperti Saudara sehingga masyarakat ini bisa menjadi lebih baik".

Sementara itu waktu berjalan terus, pendekatan-pendekatan mereka semakin berkurang. Tampaknya kemudian mereka sampai kepada periode memberi penilaian terhadap peneliti, yang diambilnya dari sikap atau pembicaraan sehari-hari. Olah karma itulah rupanya mereka sering mengundang pendatang-pendatang baru itu untuk memberikan ceramah-ceramah di mersah (langgar) atau di tempat umum lainnya. Memang pada mereka ada rasa ingin tahu, ingin mendapat sesuatu yang baru dari pendatang ini, tapi sementara itu mereka membuat penilaian juga. Hal semacam ini telah biasa terjadi, di mana keesokan harinya timbul "resensi" tentang pembicaraan itu di tengah masyarakat. Pola seperti ini dapat kita ketahui dari ceritera mereka tentang orang lain' yang pernah datang ke daerah ini sebelumnya. Setelah penilaian itu dimiliki masyarakat, maka pendekatan mereka semakin berkurang, lalu timbul sikap acuh tak acuh. Namun dari sikap mereka yang pernah saya amati, mereka menjadi bersikap intim dan mengadakan pendekatan lagi setelah waktu penelitian ini akan selesai. Kampung juga biasanya didiami oleh anggota masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam beberapa belah (klen-kecil).

Dua bush kampung yang dipilih menjadi tempat penelitian ialah Bebesen dan Kebayakan, mempunyai beberapa ciri yang kurang-lebih sama. Kedua kampung terletak sama jaraknya dengan kota dan dengan "jalan rays propinsi" yang menghubungkan daerah ~ Gayo pada umumnya dengan "dunia luar" ke pantai utara Aceh. Adapun kota yang dimaksud ialah kota Takengon, ibu kota Daerah Tingkat II Aceh Tengah. Kedua kampung ini merupakan dua di antara kampung asal yang ada di daerah ini. Saya juga menganggap kedua kampong merupakan bagian dari suatu parul; masyarakat (moiety).2 Kedua kampung yang diantarai oleh jalan raya tersebut di atas, masing-masing di sebelah timur dan barat jalan itu, dikelilingi oleh areal persawahan. Dilihat secara umum masyarakat kedua kampong adalah pendukung dari satu kebudayaan, yakni kebudayaan Gayo.

Selama satu tahun melakukan pemelitiali ~di daerah ini saya telah memilih tempat tinggal di luar kedua desa penelitian. Saya telah memilih desa Blang Kolak I, yang terletak di sekitar kota Takengon. Seperti telah disinggung di atas, masing-masing kampung tadi merupakan bagian dari suatu paruh masyarakat; oleh karena itu kedua masyarakat 'secara historis dalam hal-hal tertentu berada dalam keadaan sensitif. Gejala seperti ini sebenarnya sangat mendalam di masa-mass yang lalu, yang sampai mass kini masih juga terasa. Memilih salah satu kampung untuk menjadi tempat tinggal, bisa memancing sensitivitas tadi, yang langsung atau tidak bisa mempengaruhi jalannya penelitian. Malah dengan saya memilih kedua kampung itu saja sebagai lokasi penelitian, ada pihak yang merasa saya mengingatkan kembali gejala yang telah mendasar dari masa lalu itu. Hal ini tampak dari sikap beberapa informan yang tertegun-tegun dalam memberikan keterangan. Ini terjadi karma yang bersangkutan berasal dari paruh yang satu, sedang peneliti sendiri diketahuinya berasal dari paruh yang lain. Prasangka yang demikian tentu diusahakan untuk dipadamkan, meskipun tidaklah mudah untuk meyakinkan mereka.

Pengaruh perasaan yang tumbuh di kedua masyarakat, terbukti kalau untuk beberapa saat saya tidak muncul ke kampung yang satu tersembunyi suatu tuduhan, kenapa "di sang" terus-menerus. Car memilih kawan dalam pergaulan sehari-hari dikehendaki haru seimbang dari kedua belah pihak. Demikian pula dalam memili asisten seakan-akan harus disepakati oleh masyarakat kedua kampung. Dengan perkataan lain mereka menghendaki harus adil; kepada mereka harus ditunjukkan bahwa kita tidak berat sebelah. Namu secara keseluruhan dilihat dari mana asal moiety peneliti, pada mulany terasa terjadi ketidakseimbangan suasana. Satu hal yang menarik bahwa mereka yang berlainan, moiety dengan peneliti, pada taha

permulaan penelitian terasa ada kekakuan komunikasi; tetapi setelah memahami maksud penelitian mereka ternyata lebih terbuka. Akhirnya masalah ini terasa tidak menjadi problem yang berarti lagi.

Mendapatkan pemondokan bagi saya yang dipakai selama penelitian tidak ada kesulitan. Sebelum saya sampai ke daerah ini pihak kerabat ternyata sudah menyediakan, sesuai dengan saran yang saya berikan. Saya memilih rumah yang disediakan ini yang memungkinkan saya bisa bekerja lebih baik, antara lain karena tersedianya fasilitas penerangan listrik. Dengan demikian saya dapat bekerja pada malam hari untuk mencatat kembali atau mendengarkan rekaman-rekaman.

Suatu hal yang tidak terduga yang ternyata mengganggu pekerjaan sehari-hari ialah, karena rumah ini terletak di pingir jalan raya, jalan orang lalu-lalang ke kota atau ke kantor. Banyak di antara mereka yang datang bertamu sekedar untuk iseng-iseng saja. Kalau ada orang laiunya lagi yang akan ke kantor maka is mampir juga. Lama atau tidaknya mereka di rumah tergantung pada suasana pembicaraan, padahal tujuan mereka adalah ke kantor. Memang kedatangan mereka ini bisa berguna untuk penelitian ini, tetapi sering juga mengganggu rencana yang ada.

Masalah makan dan makanan dapat saja dengan segera menyesuaikan diri, karena sebelumnya juga sudah mengenal. Hal ini menjadi lebih terbantu sebab yang mengurus makan adalah kerabat sendiri sehingga dapat diatur. Cuma saja kalau kita sedang berada di rumah informan atau responden, kita terpaksa harus menghadapi kebiasaan yang mereka miliki. Di daerah ini ada kecenderungan masyarakat untuk menyuguhi makan nasi kepada tamunya. Karena ini merupakan kebiasaan mereka, mencari alasan untuk menolaknya tentu harus berhati-hati. Penolakan yang terasa di dalam diri kita tentu dengan alasan ekonomis dan kesehatan. Penolakan ekonomis berarti kita merepotkan mereka, sedang alasan kesehatah misalnya kita belum waktunya untuk makan. Namun alasan seperti ini tak mungkin kita kemukakan kepada mereka. Alasan penolakan yang tidak tepat bisa membuat mereka kecil hati, menuduh kita sombong, mentang

mentang orang kota, atau lebih ekstrem lagi dig mengira kita menganggapnya mempunyai guns-guns (black magic). Ini tentu sangat berpengaruh kepada kelanjutan penelitian ini sendiri.

Sehubungan dengan mengatasi masalah penyakit bagi saya yang melakukan penelitian tidak jauh dari kota juga tidak banyak masalahnya. Di kota Takengon tersedia dug orang dokter umum dan seorang dokter gigi. Di antara dokter ini ada yang menunjukkan toleransinya yang sangat besar terhadap saya, karma setiap kali saya berobat ke tempat prakteknya is selalu menolak pembayaran. Penolakan ini katanya berdasarkan sumpah dokter, yang tidak boleh menerima pembayaran dari kerabat, tetangga dan kolega. Rupanya saya sendiri dikategorikan sebagai kolega. Oleh karena itu secara psikologis kita menjadi kurang enak berobat ke sang secara terus-menerus, justru ada dokter lain sebagai penggantinya.

Memang setelah kira-kira empat bulan saya berada di daerah ini,

saya mendapat gangguan kesehatan, beberapa kali mendapat serangan tekanan darah tinggi. Gangguan ini mungkin karma kelelahan atau kompleks tekanan pikiran. Kemungkinan oleh sebab yang terakhir ini, setelah banyak melakukan observasi dan berpartisipasi dengan masyarakat setempat. Kini kita dihadapkan dengan berbagai kenyataan sosial, dengan berbagai nilai yang tersembunyi di batik kenyataan itu. Sebagai peneliti tentu kita harus menyerap kenyataan-kenyataan itu ke dalam catatan penelitian, tanpa banyak mencampuri atau mengguruinya.. Dengan perkataan lain kita tetap sebagai partisipan dan sebagai observer. Di pihak lain kita harus membendung berbagai keinginan untuk maksud mencoba. mencampuri dan memperbaikinya. Kalau kita sampai menyempatkan diri untuk mengatur kenyataan itu secara langsung, maka peranan kita sebagai peneliti akan terbengkalai. Ini bukanlah maksud kita yang datang dari jauh-jauh.